Mahasiswa dan Eksistensi dalam Berdemokrasi

PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Dhian Hari M.D. Atmaja   
Selasa, 26 Januari 2010 07:44

Indonesia sebagai negara yang menganut asas demokrasi dalam menjalankan sistem pemerintahannya, menempatkan rakyat sebagai kelompok masyarakat yang memegang pucuk pemerintahan. Rakyat memiliki kedaulatan atas bangsa dan negara yang dalam proses aplikasinya diwakilkan kepada orang-orang yang telah mereka pilih untuk menduduki jabatan di sistem pemerintahan.

Pada posisi yang lain, terdapat adanya golongan yang tidak masuk dalam jabatan pemerintahan namun terus melakukan kegiatan pengawasan terhadap kerja pemerintah. Golongan ini menjalankan fungsinya sebagai media untuk mengontrol kebijakan agar tidak menyalahgunakan kekuasaan yang justru mendatangkan kesengsaraan pada rakyat.

Di negara yang sudah maju, perlakuan kontrol atas kebijakan yang telah pemerintah ambil dilakukan oleh golongan yang disebut dengan oposisi. Golongan ini menjalankan perannya dalam mengevaluasi kinerja pemerintah agar tidak hanya menguntungkan golongan tertentu dan bahkan agar tidak mengesampingkan kepentingan rakyat. Akan tetapi, melihat kondisi riil bahwa di Indonesia landasan atas gagasan untuk berdiri sebagai oposisi masih tergolong lemah, maka peran kontrol atas kebijakan-kebijkan pemerintah dilakukan oleh publik akademisi. Salah satu golongan yang selama ini telah berpartisipasi aktif dalam penyelenggaraan kontrol adalah para generasi intelektual (baca: mahasiswa).

Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, mahasiswa telah ikut mengawal kebijakan-kebijakan pemerintah. Kita dapat kembali menelusuri sejarah yang merekam bagaimana peran mahasiswa untuk beroposisi dari Orde Lama sampai Orde Reformasi yang saat ini sedang kita jalankan. Peran mahasiswa di masa Orde Baru, yang konon dapat dibilang sebagai Orde yang paling otoriter dan represif, mahasiswa tetap menjalankan fungsinya sebagai lembaga oposisi. Ambil contoh tentang peristiwa Malari (15 Januari 1974).

Melihat catatan-catatan sejarah yang telah ditorehkan untuk mengenang pergerakan lembaga oposisi yang dijalankan oleh mahasiswa, kita dapat menarik kesimpulan bahwa golongan mahasiswa ini telah menjadi para penjaga demokrasi dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mahasiswa telah muncul sebagai golongan yang dengan suka rela memihak golongan minoritas (rakyat kecil) yang tanpa menuntut ucapan terima kasih. Sebab, tugas yang mahasiswa emban sebagai pelaku lembaga oposisi ditumbuhkan atas dasar kesadaran dan kemurnian hati.

Golongan ini diharapkan untuk terus ada demi berlangsungnya sistem pemerintahan yang baik. Demokrasi membutuhkan adanya kontrol dengan tujuan untuk mencapai sistem yang sehat demi tetap berlangsungnya negara demokrasi yang berasaskan pada mufakat. Dan dari awal sampai hari ini, mahasiswa telah hadir sebagai eksistensi generasi intelektual untuk menjawab tantangan yang ada. Golongan yang berangkat dari ketulusan hati, telah memberikan sumbangsih yang besar dalam perjalanan bangsa Indonesia yang masih belajar berdemokrasi. Ini sebagai langkah kecil agar harapan untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang besar dapat terwujud. Yaitu, bangsa yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. [Dhianhmda]

Jalan Kapas 09, 23 Januari 2010

Comments (0)add comment

Write comment

busy